Ketua KPK Firli Bahuri Soroti Tingkat Kesejahteraan di Kaltim

15 Oktober 2021

Firli Bahuri dan Isran Noor

Pendapatan Per Kapita Tinggi, Kemiskinan dan Pengangguran Juga Tinggi

KALTIM.FAJAR.CO.ID, BALIKPAPAN – Para kepala daerah di Benua Etam tampaknya mesti memutar otak. Agar pendapatan yang tinggi juga berbanding lurus dengan kesejahteraan. Hal itu yang menjadi pesan Ketua KPK Firli Bahuri kepada gubernur, bupati, maupun wali kota di Kaltim saat berkunjung ke Balikpapan, Rabu (13/10).

Itu merupakan kedatangannya yang pertama kali sebagai ketua komisi antirasuah dalam agenda membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Antikorupsi di Ballroom Swiss-Belhotel Balikpapan.

Dalam paparannya, Firli menyoroti angka kesejahteraan Kaltim yang terbagi tujuh indikator penilaian. Yakni kemiskinan, pengangguran, kematian ibu melahirkan, kematian bayi, indeks pembangunan manusia (IPM), pendapatan per kapita, dan angka gini ratio.

“Tadi malam (kemarin) saya dapat datanya, mudah-mudahan benar, sehingga menjadikan refleksi kita semua, sehingga tahu apa yang harus kita lakukan ke depan. Jadi kita betul-betul memajukan kesejahteraan umum,” kata dia di hadapan peserta Bimtek Antikorupsi, kemarin.

Pria berpangkat komjen itu juga mengapresiasi capaian angka kemiskinan di Kaltim yang berada di angka 6,64 persen. Angka itu berada di bawah angka kemiskinan nasional sebesar 10,19 persen.

Lalu IPM Kaltim berada di angka 76,24 persen, juga lebih tinggi dari angka IPM nasional sebesar 71,94 persen. Sementara pendapatan per kapita di Kaltim sebesar Rp 161,3 juta. Melebihi pendapatan per kapita nasional sebesar Rp 59,1 juta.

Lalu angka pengangguran Kaltim sebesar 6,87 persen sedikit di atas angka nasional sebesar 6,26 persen. “Pertanyaannya sekarang, income (pendapatan) per kapita sangat tinggi, kenapa angka pengangguran masih tinggi?” tanya mantan deputi penindakan KPK itu.

Selanjutnya angka kematian ibu melahirkan di Kaltim juga masih tinggi dari angka nasional. Angka kematian ibu melahirkan di Kaltim sebesar 1,22 persen sementara angka nasional 0,97 persen.

Kemudian, angka kematian bayi Kaltim juga jauh di atas nasional. Yakni 8,83 persen dari angka nasional sebesar 5,41 persen. “Kenapa angka kematian ibu dan bayi yang baru dilahirkan masih tinggi? Inilah PR gubernur, bupati, dan wali kota bagaimana memperbaiki kesejahteraan dengan indikator angka kematian ibu (melahirkan) dan bayi ini,” pesan Firli.

Indikator tersebut, menurut dia, menjadi sangat penting. Sebagai persiapan Indonesia yang ingin menyambut bonus demografi pada 2045. Dan Indonesia akan masuk lima kekuatan ekonomi dunia.

Selain itu, indikator terakhir adalah gini ratio Kaltim yang cukup bagus dibandingkan angka nasional. Gini ratio Kaltim sebesar 0,334 persen dari angka nasional sebesar 0,384 persen.

Komentar

VIDEO TERKINI